Senin, 30 April 2018
Cinta Damai, Korut & Korsel aja uda Damai.. Kita kapan ya ? inilah awal dari kedamaiannya...
By Kunci Berita at April 30, 2018
No comments
Di akhir 1950 ketika Perang Korea kian memuncak melibatkan sejumlah negara adidaya, pasangan muda asal Korea Utara dievakuasi dari reruntuhan bangunan di kota mereka oleh tentara Amerika Serikat. Mereka dibawa ke sebuah lokasi pengungsian di Korea Selatan. Pada 1953 ketika Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata, pasangan pengungsi yang hidup dalam kemiskinan di Kota Busan, Korsel, itu melahirkan seorang putra.
Sang putra itu kini menjadi Presiden Korea Selatan. Dia adalah Moon Jae-in. Jumat lalu Moon dengan hangat menjabat tangan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan kedua berjanji untuk segera mengakhiri perang yang sudah berlangsung hampir tujuh dekade di Semenanjung Korea.
Pertemuan Moon dengan Kim itu menghasilkan deklarasi 'Semenanjung Korea yang bebas nuklir'. Namun jurnalis asal Kanada Doug Sanders yang berpengalaman menulis isu internasional memandang pertemuan kedua pemimpin itu tampaknya belum akan menghasilkan kesepakatan konkret dalam waktu dekat.
Dilansir dari laman The Globe and Mail, Jumat (29/4), meski begitu pertemuan dua Korea ini adalah yang paling dekat dengan kesepakatan damai. Pertemuan itu, kata Sanders, dipandang sukses dan apa pun yang dihasilkan nanti, kesuksesan pertemuan itu adalah hasil karya Moon Jae-in. Sejak belum terpilih jadi presiden pada 2017 Moon sudah melakukan pendekatan diplomatik secara hati-hati selama bertahun-tahun. Pengorbanannya terbayar sudah. Dia berhasil mengesampingkan jual beli ancaman antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kim Jong-un, namun tetap menjaga hubungan dengan keduanya, termasuk dengan para pemimpin China.
Dia juga dipandang berani mengambil risiko politik maha besar dengan mendamaikan seorang diktator yang berulang kali mengancam negara lain. Dia sudah mempertaruhkan jabatan kepresidenannya untuk mengurangi risiko perang.
Di sisi lain, dengan menjabat tangan Kim sebulan sebelum Trump diharapkan akan bertemu pemimpin Korut itu, Moon sudah menorehkan namanya menjadi bagian sukses dari dialog Utara-Selatan yang menjadi awal deklarasi perdamaian dan pelucutan nuklir. [pan-Merdeka]
Kim Jong-un akan ubah Korea Utara jadi satu zona waktu dengan Korea Selatan
Kim Jong-un mengatakan dia akan mempercepat waktu di Korea Utara 30 menit dari sebelumnya agar sama dengan zona waktu di Korea Selatan. Kebijakan itu adalah rangkaian dari hasil positif yang dicapai dalam pertemuan Kim Jong-un dan Presiden Moon Jae-in pada Jumat lalu (27/4).
Kedua negara memiliki perbedaan zona waktu sejak 2015, ketika Korea Utara tiba-tiba mengubah waktu standarnya menjadi mundur 30 menit di belakang Korea Selatan.
Dilansir the Straits Times yang mengutip dari AFP, Minggu (29/4), Pyongyang menyertakan alasan nasionalistis ketika melakukan perubahan zona waktu. Mereka mengklaim mengubahnya ke zona waktu yang digunakan sebelum penjajahan Jepang untuk menandai peringatan 70 tahun pembebasan negaranya dari kolonialisme Negeri Matahari Terbit itu.
Kini, setelah KTT Korea Utara-Korea Selatan, Kim Jong-un berjanji akan menyamakan kembali zona waktunya dengan Seoul. Hal tersebut diungkapkan oleh Yoon Young-chan, Juru Bicara Presiden Moon Jae-in.
Menurut Yoon Young-chan, Kim Jong-un merasa sedih melihat dua jam yang tergantung di dinding ruang pertemuan menunjukkan waktu yang berbeda.
"Karena kami yang membuat perubahan standar waktu, maka kami yang akan kembali ke waktu semula. Anda dapat mengumumkannya secara terbuka," kata Yoon Young-chan mengutip ucapan Kim Jong-un.
Yoon Young-chan memuji itu sebagai "langkah simbolis" untuk hubungan yang lebih baik antara Seoul dan Pyongyang.
Perubahan zona waktu Pyongyang sebelumnya mengundang kecaman dari Park Geun Hye, pendahulu Moon Jae-in, yang berasal dari kubu konservatif.
Perbedaan zona waktu dianggap memperdalam konflik antara kedua Korea yang tercerai oleh Perang Korea 1950-1953.
Perang di Semenanjung Korea secara teknis belum berakhir. Moon Jae-in dan Kim Jong-un pada Jumat lalu bersumpah akan secara resmi mengakhirinya.
Reporter: Khairisa Ferida - Merdeka




0 komentar:
Posting Komentar